Informasi Pendidikan, Tugas, Guru, Contoh, Cara, Jelaskan, Pengertian, Perbedaan, Persamaan

Sabtu, 25 Juni 2016

PROSES PENYERAPAN ZAT BESI DALAM TUBUH MANUSIA

"

Pengertian Zat Besi dan Fungsinya Pada Tubuh - Iklan suplemen zat besi sering kali tampil di berbagai media. Memang zat besi merupakan mineral yang penting agar stamina tubuh maksimal setiap hari, meskipun suplemen harus dikonsumsi secara hati-hati. Sebenarnya ada banyak pilihan makanan mengandung zat besi yang mampu mencukupi kebutuhan tersebut.

Salah satu guna utama zat besi adalah memproduksi sel darah merah yang akan membawa oksigen ke seluruh tubuh. Kekurangan zat besi dapat menyebabkan seseorang merasa lemah, letih dan lebih sensitif  karena tubuh mengalami kekurangan oksigen akibat dari penurunan produksi sel darah merah.

PROSES PENYERAPAN ZAT BESI DALAM TUBUH MANUSIA
 
Zat besi adalah salah satu contoh dari zat yang sangat diperlukan oleh tubuh kita. Tanpa adanya zat besi maka tidak akan ada yang membawa oksigen-oksigen ke jaringan dari paru-paru dan tidak ada juga yang mengangkut elektron di dalam proses pembentukan energi yang terjadi didalam sel.

Definisi Zat Besi

Nama lain dari zat besi adalah ferrum atau Fe. Zat besi (Fe) merupakan mikroelement yang esensial bagi tubuh. Zat ini terutama diperlukan dalam hemopobesis (pembentukan darah), yaitu dalam mensintesa hemoglobin (Hb) (Sediaoetama, 2006). Mikroelemen tersebut merupakan mineral yang terdapat didalam darah dan dalam semua sel tubuh serta bertindak sebagai pembawa oksigen yang diperlukan sel dan karbon dioksida dari sel ke paru-paru (Harper, 2006).

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Penyerapan Besi

Zat besi dalam tubuh manusia sebagian besar terdapat dalam sel darah merah (eritrosit) yaitu sekitar 65%, dalam jaringan hati, limpa dan sumsum tulang 30% dan sekitar 5% terdapat dalam inti sel, dalam plasma serta dalam otot sebagai mioglobin (Minarno dan Hariani, 2008).

Fe berfungsi dalam pembentukan sel darah merah. Di dalam tubuh, sebagian besar Fe terdapat konjugasi, seperti (Hemoglobin, myoglobin, transferrin, ferritin dan hemosiderin) dengan protein dan terdapat dalam bentuk Ferro atau ferri. Bentuk aktif zat besi biasanya terdapat sebagai Ferro, sedangkan bentuk inaktif adalah sebagai Ferri (misalnya bentuk storage) (Sediaoetama, 2006).

Berdasarkan jenis ketersediaan zat besi di dalam bahan makanan, dikenal dua jenis yaitu besi heme dan non heme. Besi non heme merupakan sumber utama zat besi dalam makanan dan terdapat dalam semua jenis sayuran hijau, seperti kentang, kacang-kacangan dan sebagian dalam makanan hewani (Wahyuni, 2004). 

Zat besi non heme dalam tubuh hanya diserap 1-2 %, sedangkan besi heme dua kali lipatnya. Bahwa  konsumsi makanan sumber non heme dengan suplementasi vitamin C dapat meningkatkan kadar hemoglobin secara bermakna (Sediaoetama, 2006).

Zat besi lebih mudah diserap dari usus halus dalam bentuk Ferro. Penyerapan ini mempunyai mekanisme autoregulasi yang diatur oleh kadar ferritin yang terdapat di dalam sel-sel mukosa usus. Pada kondisi Fe yang baik, hanya sekitar 10 % dari Fe yang terdapat di dalam makanan diserap ke dalam mukosa usus, tetapi dalam kondisi defisiensi lebih, banyak Fe dapat diserap untuk menutupi kekurang zat tersebut (Sediaoetama, 2006).

Diperkirakan hanya 5-5% besi makanan diabsorbsi oleh orang dewasa yang berada dalam status baik. Dalam keadaan defisiensi besi, absorbsi dapat mencapai 50%. 

Banyak faktor yang berpengaruh, diantaranya:
  1. Bentuk besi, besi hem yang merupakan baguan dari hemoglobin dan mioglobin dapat diserap dua kali lipat daripada non hem.
  2. Asam organik, membantu penyerapan besi non heme dengan menguba bentuk feri menjadi bentuk fero.
  3. Asam fitat dan Asam oksalat, menghambat penyerapan besi.
  4. Tanin, menghambat absorbsi besi dengan cara mengikatnya.
  5. Tingkat keasaman lambung, menungkatkan daya larut besi.
  6. Faktor intrinsik, di dalam lambung membantu penyerapan besi, diduga karena hem mempunyai struktur yang sama dengan vitamin b12.
  7. Kebutuhan tubuh, kebutuhan besi meningkat bila masa pertumbuhan. Absorbsi besi non hem dapat meningkat sepuluh kali lipat, sedangkan besi hem dua kali lipat (Almatsier, 2004).

Kekurangan Zat Besi

Kekurangan zat besi dapat menimbulkan penyakit defisiensi yang disebut anemia gizi besi. Anemia adalah suatu keadaan dimana kadar hemoglobin (Hb) dalam darah kurang dari kadar normal (Minarno dan Hariani, 2008). Jika tidak terdapat cukup besi untuk memenuhi kebutuhan tubuh, maka jumlah hemoglobin dalam sel darah merah berkurang (Harper, 2006).

Manfaat Vitamin C

Vitamin C dibutuhkan untuk mengkonversi asam folat untuk menjadi bentuk yang aktif, meningkatkan penyerapan zat besi dan membantu dalam membentuk jaringan penyambung (Patimah, 2007). Adanya vitamin C gugus SH (sulfidril) dan asam amino sulfur dapat meningkatkan absorbs karena dapat mereduksi besi dari bentuk ferri menjadi ferro. Vitamin C dapat meningkatkan absorbs besi dari makanan melalui pembentukan kompleks ferro askorbat (Wahyuni, 2004). Kekurangan vitamin C pada orang dewasa menyebakan penyakit askorbut dengan salah satu gejalanya adalah anemia. (Minarno dan Hariani, 2008).

Demikian posting hari ini yang membahas tentang definisi zat besi, faktor-faktor yang mempengaruhi penyerapan besi, kekurangan zat besi dan manfaat vitamin C. Semoga artikel yang berjudul zat besi dalam tubuh dan penyerapannya ini dapat bermanfaat bagi kita.

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : PROSES PENYERAPAN ZAT BESI DALAM TUBUH MANUSIA

0 komentar:

Posting Komentar